Pembunuhan Karyawati bank, Kita Semua Bersalah

-

Tak terbayang bagaimana manusia yang katanya memiliki kelebihan dari makhluk lain, yakni memiliki Pikiran, mampu melakukan berbagai hal keji pada sesamanya.

Beberapa waktu ini ada tragedi miris dan mengenaskan di Bali, pulau dewata. Seorang karyawati salah satu Bank swasta di Bali ditemukan tergeletak tak bernyawa dengan puluhan tusukan benda tajam ditubuhnya dirumahnya. Diketahui bahwa motor korban hilang dan polisi mencurigai bahwa ini pembunuhan ini adalah perampokan yang dilakukan seseorang.

Yang menjadi lebih menyakitkan, akhirnya Polisi menangkap pelaku pembunuhan keji ini. Dan yang menjadi masalah, ternyata tersangkanya adalah seorang anak kecil, berusia 14 tahun berinisial PAH. Iya, berusia baru 14 tahun. Seorang anak yang jika seusia akan sama dengan anak kelas 2 / VII Sekolah Menengah Pertama.

Dengan usia begini, seharusnya anak itu sedang menikmati masa mudanya Bersama teman-temannya bermain dan belajar Bersama. Anak seusia itu adalah masa-masa indah seseorang yang akans elalu diingat. Potensi dan bakat anak mulai terlihat dan jika diasah akan mampu menjadi seorang yang sukses di masa depan.

Namun apa yang terjadi dengan PAH? Dengan usia baru menginjak 14 tahu, ia telah mampu menghabisi nyawa sesame dengan cara yang tidak masuk akal.

Awalnya sayapun jengkel dan marah, mengecam bahkan mengeluarkan sumpah serapah pada tersangka, kata-kata cicing, bangs*t, madak cai mati dan sebagainya keluar seperti masyarakat lain tanpa melihat bagaimana latar belakang kehidupannya dan bagaimana masa mudanya terampas.

Salah akan tetap salah. Bagaimanapun juga.

 Tapi akhirnya semakin saya mencari dan mendapat informasi dari media dan banyak informasi beredar dari tetangga atau minimal orang yang pernah dekat dengan sang anak atau keluarganya, saya merasa sedih dan kasihan.

Bagaimana pahitnya kedihupan yang dialami sang anak diusia sangat belia. Orang tuanya bercerai setelah menikah muda, diusia SMP dahulu. Bagaimana kerasnya didikan orang tua dengan kekerasan, bagaimana dia hidup hanya dengan neneknya setelah sang ayah menikah dan merantau. Bagaimana kekurangan ekonomi dan kasih sayang yang diterima sang anak.

Ia ditempa oleh kerasnya dunia sebelum dia tahu bagaimana indahnya masa kanak-kanak. Kekurangan kasih sayang dan ditinggal nenek yang selama ini menjaganya yang akhirnya membuat mental dan pola pikirnya berubah.

 Bagaimana ia mulai melakukan Tindakan kriminal pencurian kotak punia di beberapa pura yang akhirnya dijebloskan dalam penjara. Ini telah menunjukan bagaimana berubahnya pola piker sang anak dan saya berani menjamin, tidak ada yang memperhatikan dan memberi perhatian akan hal ini. Bagaimana kerasnya kehidupan untuk anak berusia 14 tahun harus mencari nafkah dengan menjadi buruh bangunan disaat teman seusianya sedang belajar di sekolah dan bermain Bersama.

Bagaimana dari informasi, ada kemungkinan kelainan seksual sang anak dengan bergaul dan berteman dengan be*cong, ini kemungkinan karena dilingkungan itu ia merasa dihargai dan disayangi serta dianggap ada, mungkin saja.

Kesalahan ini bukan hanya saya timpakan ke sang anak atau terlebih keluarganya. Ini adalah kesalahan Pemerintah bahkan kita semua. Harusnya ini menjadi renungan. Bukan hanya diri sendiri dan keluarga, kita harus mulai kesadaran tentang lingkungan kita. Bagaimana tumbuh kembang anak disekitar lingkungan tempat tinggal kita. Ini adalah kesalahan kita semua yang abai terhadap tetangga bahkan lingkungan kita berada.

Sebagai masyarakat, kita harus mulai awas dan peduli dengan lingkungan. Lihat dan peduli bagaimana anak-anak dalam lingkungan kita yang mungkin ada kecenderungan melakukan hal menyimpang yang mungkin tidak disadari oleh orangtuanya sendiri karena keterbatasan ekonomi yang mengharuskan mencari nafkah dengan meninggalkan sang anak tanpa perhatian. Bahasa kasarnya, sebelum sang anak atau siapapun melakukan Tindakan criminal yang mungkin saja menimpa keluarga kita sendiri, apa susahnya kita memulai untuk awas dan peduli dengan mereka. Anggap saja jika tidak ingin menjadi korban, urus anak-anak dilingkungan sekitar kita. Awasi mereka jika mulai terdengar Tindakan menyimpang, apapun bentuknya. Karena sang anak jika tanpa ada yang mengawasi dan memberi peringatan, ia akan merasa bahwa kesalahan dan kelainan itu adalah hal biasa dan lama kelamaan akan membesar dan membesar.

Lihatlah PAH ini, dari mulai mencuri kotak punia, akhirnya melakukan perampokan yang karena ketahuan, dengan gelap mata menghilangkan nyawa sesama. Itu bisa saja terjadi pasa saya, anda, keluarga kita. Mari mulai peduli dan sudahi memberi sumpah serapah untuk sang anak. Biarkan ini menjadi pembelajaran penting bagi kita semua.

Salam untuk semua

Ketut S


TAGS :

Komentar